Khalifah

Kodrat Kekholifahan Jatidiri Manusia atas bumi ini sangat jelas disampaikan dalam seluruh ajaran agama dan kepercayaan yang ada di bumi ini. Tugas kekholifahan manusia atas bumi ini adalah Mewakili Illahi Robbi untuk mengurus, merawat, menjaga, melindungi, melestarikan, mengelola, mengolah, mengembangkan, mendayagunakan dan memanfaatkan seluruh fasilitas yang ada dan tersedia di bumi ini sebagai fasilitas kenikmatan hidup bersama dengan seluruh manusia yang ada, yang sama-sama dikodratkan sebagai kholifah atas bumi ini, tanpa membedakan suku, agama, ras, adat, budaya dan bangsa apa pun, karena semuanya sama dihadapan Illahi Robbi Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai seorang kholifah atas bumi ini, manusia bertanggung jawab untuk memimpin, mengatur dan mengendalikan seluruh unsur kehidupan yang ada di bumi alam semesta raya ini, karena manusia adalah Inti dari unsur-unsur (binatang, tumbuh-tumbuhan, air, api, tanah, angin, awan dan cahaya alam), manusia juga pemimpin atas kehidupan bathin atau gaib (malaikat, iblis, syetan, jin, siluman, leluhur manusia dan kehidupan bathin lainnya).

Sebagai inti atas bumi alam semesta raya ini, tentunya manusia diwajibkan untuk arif dan bijaksana untuk tetap menjaga kesimbangan dan keselarasan antara manusia dengan alam bumi ini, manusia tentunya tidak boleh semena-mena hanya memanfaatkan sumber daya alam yang ada di bumi ini tanpa ada rasa tanggung jawab yang baik, sehingga menyebabkan kerusakan bagi diri manusia itu sendiri. Karena bumi tidak akan pernah rusak, karena usia bumi ini sudah bermilyar tahun namun bumi tetap exis dengan dinamika gerak yang senantiasa baru dan memperbaharui dirinya, sementara manusialah yang rusak dan binasa oleh karena ketidak mampuannya menjadi kholifah yang baik, yang arif dan bijaksana di bumi ini.

Jika prinsip-prinsip kekholifahan yang diterapkan oleh manusia seperti yang ada pada saat sekarang ini, dimana manusia telah menyebabkan berbagai bencana alam oleh sebab terjadinya berbagai bencana yang ada di dalam jiwa raga manusia itu sendiri, maka kehancuran dan kebinasaan atas jatidiri manusia pun pasti terjadi, manusia punah dan bumi akan diisi dengan mahluk lainnya yang jauh lebih mampu untuk mengurus bumi ini.

Jadi jangan pernah berpikir bahwa bencana alam yang terjadi adalah merusak bumi, bencana bagi manusia tapi bagi bumi itu sendiri adalah berkah, karena bumi telah diciptakan sistem keseimbangan hukum alam atas diri bumi itu sendiri, terbukti dengan berbagai bencana alam yang terjadi, misalnya gunung meletus yang mengeluarkan berkah material bumi yang sangat bermanfaat, minimalnya menyuburkan tanah, sementara bagi manusia adalah penderitaan dan kesengsaraan.

Sama halnya yang terjadi di Porong-Sidoarjo dengan tragedi lumpur panas lapindonya, yang sebenarnya itu adalah proses regenerasi dari bumi di wilayah tersebut, yang telah berhasil menyulap dari perkampungan yang kumuh dan pengap, sekarang menjadi seperti kawah danau yang indah jika ditanami dengan berbagai tumbuh-tumbuhan, juga jika kita pandai mensyukurinya maka dari lumpur tersebut pun mengandung mineral yang sangat baik dan dibutuhkan oleh manusia, Kembali kami tegaskan bahwa bencana bagi manusia-manusia yang kufur akan nikmatNya, tapi berkah bagi yang mensyukuri dari setiap kejadian. Dan sebagai seorang kholifah tentu harus arif dan bijaksana menyikapi setiap kejadian yang ada di bumi ini.